BERITA

The Meaning of happiness from Mbok Sumi

Oleh: Achmad Muchibulloh (MAN 2 WONOSOBO)


Kupikir selama ini yang namanya kebahagiaan adalah tentang hidup dengan banyak uang, rumah megah, mobil mewah, pendidikan tinggi yang mahal, pokoknya hidup serba wah. Namun, suatu hari pandanganku tersebutpun sirna. Memang bila semua itu kita miliki, kita bahagia. Namun ternyata arti kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah semua itu. Belajar dari sosok Mbok Sumi, yang menurutku salah satu dari sekian contoh manusia kecil yang berhati besar.
Wonosobo masih gelap gulita. Hawa dingin yang menusuk tulang, membuat orang-orang masih betah bersembunyi di lembaran tebalnya selimut dan terlelap di alam mimpinya. Lantunan ayat suci Alquran yang bersumber dari kaset yang diputar di masjid menggetarkan hati, terdengar membelai hati tiap insan yang imannya tebal di sudut kota Wonosobo ini.
Dini hari ini, Mbok Sumi dan anak bujangnya yang oleh Mbok Sumi diberi nama Tegar sudah berada di pasar pagi guna membeli berbagai bahan pokok untuk dagangan Mbok Sumi. Karena sudah setiap pagi belanja, maka pedagang di pasar sudah mempersiapkan apa saja yang akan dibeli Mbok Sumi. Sayur, tahu, tempe, ikan asin, pisang, dan kebutuhan lainnya sudah siap diangkut. Saatnya Tegar bertugas. Ya, membawa belanjaan tersebut. Mana mungkin ia membiarkan wanita berkaki surganya membawa dagangan sebanyak itu.
“Mbok, Tegar wae seng Beto. Simbok mbayar mawon”, begitu ucap Tegar acapkali ibunya akan memungut belanjaan. (Bu, biar Tegar saja yang membawa. Ibu membayar saja).
“Bawok, deke pancen jah pengerten. Seneng banget simbok duwe anak koyo Tegar Iki”, ucap Mbok Sumi penuh syukur. (Anak laki-laki, kau memang anak pengertian. Ibu senang sekali punya anak kaya Tegar ini).
“Hehe… Simbok ke saget mawon”, ucap Tegar tersipu malu. (Hehe.. ibu tu bisa saja)
Segera, Mbok Sumi dan Tegar pulang ke rumah mereka di Desa Jlamprang. Mulailah anak Pinak ini bagi tugas untuk menyiapkan dagangan. Mbok Sumi sudah berjualan Nasi Megono dan aneka gorengan delapan tahun lalu, semenjak Margono suaminya merantau ke Kalimantan namun tak ada kabar empat tahun terakhir. Kata orang Margono sudah beristri lagi di Kalimantan. Tentu ini sangatlah menghancurkan hatinya. Namun ia hanya berdoa agar perkataan tetangganya itu tidaklah benar. Ia yakin, suaminya lelaki yang bertanggung jawab. Suaminya sedang bekerja keras guna masa depan rumah tangga mereka.
“Wok, deke gawe tempe kemul Yo. Simbok tak matengno megono diset. Simbok jaluk ngapuro Yo wok. Deke jah Lanang gagah temen ko malah Kon goreng tempe kemul”, perintah Mbok Sumi sambil meminta maaf tak tega anak lelakinya harus masak di dapur. (Nak, kamu membuat tempe kemul ya. Ibu mau mematangkan Nasi Megono dulu. Ibu minta maaf ya, nak. Kamu anak laki-laki gagah kok ibu suruh goreng tempe kemul).
“Simbok niku ngendiko nopo. Pawon niku panggenane cah wadon Yo cah lanang. Kulo mung Ajeng ngrewangi simbok”, tutur Tegar. (Ibu itu ngomong apa. Dapur itu tempat anak perempuan juga anak laki-laki. Saya kan hanya mau membantu ibu).
Mereka berdua pun menyelesaikan tugas masing-masing. Adzan subuh berkumandang dengan merdu. Menggetarkan hati mereka yang beriman. Mereka berdua menghentikan apapun yang sedang dilakukan dan bergegas menuju masjid untuk sholat subuh berjamaah. Bagi Mbok Sumi dan Tegar, solat subuh berjamaah di masjid merupakan suatu anugerah. Karena tidak setiap manusia seberuntung mereka. Andai saja manusia tahu, perumpamaan mereka yang menjalankan sholat berjamaah. Apabila hadiah sholat berjamaah ditampakkan sekarang kepada manusia, maka seluruh manusia akan berbondong-bondong berlari secepat mungkin untuk mendapat keutamaan sholat berjamaah itu. Yang sehat akan berlari. Yang lumpuh akan merangkak bahkan mengesot tuk mendapat keutamaan itu. Namun kebanyakan orang tak tahu itu. Rupanya virus kemalasan menggerogoti mereka.
Setelah sholat subuh, mereka kembali menjalankan aktivitasnya, menyelesaikan persiapan berdagang. Setelah nasi megono dan aneka gorengan siap dikonsumsi, Tegar berganti haluan untuk bersiap-siap menuju gerbang kesuksesannya di masa depan. Ya Tegar akan bersiap daring. Ia mempersiapkan segala keperluannya mulai dari smartphone, koneksi internet, dan keperluan lainnya. Ia kini kelas 12 di salah satu SMA negeri di Wonosobo ini. Mbok Sumi sedikit sedih tak mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berbasis pesantren agar Tegar sang buah hatinya bisa fokus belajar ilmu agama disamping ia juga belajar ilmu pengetahuan umum.
Mbok Sumi sadar, Tegar dan kedua adiknya lah harapan baginya tuk kelapangan kubur dirinya dan suaminya di hari nanti. Mereka yang akan mendoakan Mbok Sumi dan Kang Margono saat mereka tiada lagi di dunia ini. Dunia bagaikan panggung sandiwara. Semua yang ada tiada yang abadi. Maka dari itu, disamping sekolah formal Tegar juga mengaji di Kyai di desanya. Walaupun tidak sefokus di pesantren, bagi Mbok Sumi tak masalah. Yang penting ilmu yang didapat Tegar bermanfaat dan barokah.
Tegar membangunkan kedua adik kembarnya, Anisa dan Aisha. Mereka berdua masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Tegar mengurusi keperluan adiknya mulai dari membimbing wudhu, sholat subuh, tadarus Alquran dan persiapan PJJ untuk kedua adiknya. sementara ibunya mempersiapkan dagangan. Setelah semua siap, Mbok Sumi berangkat mencari nafkah. Selain sebagai ibu ia juga bertugas menjadi sang pencari nafkah, ayah.
Tegar sebenarnya tak tega dengan kondisi seperti ini. Sebagai anak sulung dan satu-satunya anak laki-laki di rumahnya, ia merasa sama sekali tak berguna. Namun ibunya selalu hadir acap kali segala fikiran putus asa dan keterpurukan menghantui Tegar.
"Wok, deke ke urong mangsane kerjo. Jah seumuran deke ke igen mongsone Sinau. Ngesok bakal Ono mongsone dewek deke kerjo. Seng penting siki deke Sinau seng temen, gawe simbokmu bangga. Dadiyo cah lanang seng atine gede udu gumedhe. Sejatine Urip iku mogor mampir ngombe. Sedelo mbanget wok. Mulo Ojo disiyo-siyo. Simbok pengen deke fokus apalan Quran Karo fokus Sinau", begitu nasehat ibunya tiap kali melihat bujangannya merenung seakan Mbok Sumi sudah tahu apa yang ada di benak putra kesayangannya itu. (Nak, kamu belum masanya bekerja. Anak seusiamu itu masih masanya belajar. Besok akan ada masanya sendiri kamu bekerja. Jadilah anak laki-laki yang baerhati besar bukan sombong. Sejatinya, hidup ini hanya mampir minum. Sebentar sekali. Maka jangan disia-siakan. Ibu ingin kamu fokus hafalan Alquran dan fokus belajar). Sambil menggendong nasi megono dan meninting tas berisi gorengan, ia berdoa pada Tuhan. "Bismillah jembar, Bismillah longgar, bismillah entheng". Satu per satu anak-anaknya menyalami dan mencium pipi ibu mereka yang sangat mereka sayangi itu. Ratu tak bermahkota namun berkaki surga. Segera Mbok Sumi menjajakannya sego megononya keliling-keliling kampung. Ia sudah terbiasa seperti ini. Tetangga-tetangganya juga sudah banyak yang menjadi langganannya. Mbok Sumi sengaja mengambil jam sarapan untuk berjualan. Pagi hari Wonosobo dengan udaranya yang sejuk membuat megono Mbok Sumi yang masih hangat menjadi lebih menggoda, disamping memang segi megono buatannya sudah cukup terkenal bau dan rasa yang khas. Gorengannya juga masih hangat dan beemacam-macam. Ada tempe kemul, tahu kemul, pisang goreng, bakwan, geblek, dan bolang-baling. "Megono megono.....pak! Buk! Monggo megono...!!!" (Megono megono.....pak! Buk! Silahkan megono...!!!). "Gorengan gorengan....tempe tahu bakwan geblek bolang-baling....!!!" "Teseh anget pak! Teseh anget buk! Sarapan megono mas! Gorengane mbak. .!!" (Masih hangat pak! Masih hangat buk! Sarapan megono mas! Gorengannya mbak...!!). Dengan semangat dan hati riang ia terus menyusuri tiap gang, berharap ada orang yang membeli dagangannya. Karena sudah familiar, dagangannya cukup laris banyak. Baru keliling 3 gang saja ia sudah mendapat seratus lima puluh ribu rupiah. Apalagi di masa pandemi seperti ini banyak orang beraktivitas di rumah. Mentari sudah mulai menyengat kulit. Ia akan menjajakan dagangannya di sekitar taman Habibie Ainun di samping masjid jami' Wonosobo. Biasanya ia hanya kesini bila dagangannya masih lumayan banyak dan belum maauk waktu Dzuhur. Akupun hampir seminggu dua kali mengunjungi taman Habibie Ainun untuk bertemu teman-teman komunitasku. Dan tiap kali ada Mbok Sumi aku pasti menyempatkan untuk memburu nasi megono dan tempe kemulnya. Tak terkecuali siang ini. Biasanya aku makan di kosini sambil berbincang ringan dengan Mbok Sumi. Banyak sekali pelajaran yang aku ambil dari sosok Mbok Sumi. Kalau tergesa-gesa ya aku bungkus. "Mbok, megonone telongewu njok gorengane rongewu. Pangan kene ae mbok", aku mengutarakan maksudku. (Mbok, megononya tigaribu rupiah dan gorengannya dua ribu rupiah. Dimakan di sini saja ya mbok). "Oh Yo. Rika hak Mindi si wok? Hak ketemu ceweke Yo...", Celetuk Mbok Sumi menggodaku. (Oh iya. Kamu mau kemana, nak? Mau ketemu ceweknya ya...'). "Halah Mbok Sumi ke. Cewekan terus ya boros. Sopo barang sek hak pacaran. Ra gaul kok mbok. Hahaha...", Balasku. (Halah Mbok Sumi ini. Pacaran terus ya boros. Lagian siapa juga yang mau pacaran. Nggak gaul kok mbok. Hahaha...) "Hehe... Ora lah. Bener Rika. Usah pacaran. Sinau ae sek temen. Ngemben mangsane Mbojo ya Mbojo", ucap Mbok Sumi sambil menyerahkan pesananku. (Hehe... Nggak lah. Benar kamu. Jangan pacaran. Belajar aja yang rajin. Esok maasanya menikah juga menikah). "Nha kui la top mbok", jawabku sambil menikmati lezatnya megono. Meski sudah dingin,tapi tetap nikmat. (Nha ini baru top, mbok). "Ke dadi jah Enom ke sek temen le Sinau. Dilongi le dolanan opo maning deke wis kelas rolas si wok? Sek penting deke dakehake le sukur marang pangeran. Mergo sukur marang pengeram kui Sejatine kesenengan. Indonesia bakale bahagia nek rakyate Podo sukur kabeh. Manut pemerentah, ora sah neko-neko. Opo sek Ono disukuri ae", nasehat Mbok Sumi padaku sambil menutup gorengan. (Nih, jadi anak muda itu yang sungguh-sungguh dalam belajar. Kurangi bermain apa lagi kamu sudah kelas dua belas kan, nak? Yang penting kamu peebanyak bersyukur kepada Tuhan. Karena bersyukur kepada Tuhan itulah sejatinya kebahagiaan. Indonesia akan bahagia bila rakyatnya pada bersyukur semua. Nurut sama pemerintah, gak usah aneh-aneh. Apa yang ada disyukuri saja). "Siap Bu Guru!!! Riko si adol megono enak temen Mbok. Resepe sapa ta. Rika wis suwe ya mbok adol megono?", Celotehku sambil menikmati tiap sendok megono dan sesekali menggigit tempe kemul. (Siap Bu Guru!!! Kamu tu jual megono enak sekali Mbok. Resepnya siapa sih. Kamu sudah lama ya mbok jualan megono?) "Bu Guru Sumi Yo pinteran ko. Haha. Resepe My Bojo ko. Kangmas Margono, neng siki Agi ngeranto meng kalimantan. Njok tak terusno nyong. Enak si..? Barang seng gawe entong do. Nek bojone nyg seng gawe la.....Yo enak ko. Podo enake. Haha", tawa kami berdua pecah. ?Bu Guru Sumi ya pandai dong. Haha. Resepnya My Suami dong. Kangmas Margono, tapi sekarang sedang merantau ke Kalimantan. Lalu kuteruskan. Enak kan...? Kan yang buat aku sih. Kalau suamiku yang buat.... Ya enak juga. Sama enaknya. Haha) "Mbok Rika nek sedino Cok oleh Duwet pira mbok?", Tanyaku sambil mengunyah. (Buk, kalau sehari boasanya dapat uang berapa, buk?) "Yo Ra mesti. Jenenge wong dodolan ke Ra mesti. Kadang lares kadang turah. Seng penting opo sing diparingi pengeran disyukuri Bae. Bahagia ke nek awake Dewe biso gawe bahagia mareng wong liyo. Nyong Ra gumun Karo tikus-tikus sek nganggo jas klimis. Duwet akeh tapi nglarani wong akeh. Bahagia ke nek. Dadi wong seng manfangat nggo Negoro Iki. Dadi wong cilik kang manfangat marang wong liyo luweh Mulyo timbang dadi wong Gedhe neng nggrogoti bangsa Iki", ucapnya laksana seorang orator. (Ya gak pasti. Namanya orang jualan itu gak pasti. Kadang laris kadang sisa. Yang penting apa yang diberikan Tuhan disyukuri saja. Bahagia itu kalau kita bisa membahagiakan orang lain. Saya gak heran sama tikis-tikus yang mengenakan jas klimis. Uang banyak tapi menyakiti banyak orang. Bahagia itu kalau bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk negara ini. Jadi orang kecil yang bermanfaat bagi orang lain lebih mulia daripada menjadi orang besar tapi menggerogoti bangsa ini). Seorang pemuda menepuk bahuku. Dan mengisyaratkan agar aku segera beranjak. Ya aku sudah ditunggu komunitas literasiku. Akupun menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah kepada Mbok Sumi dan segera pergi. "Kie mbok duwite. Enak mbok megonone. Tempene wis enyes tapi igen tetep enak. Nyong diset Yo mbok", pamitku sambil menyerahkan uang dan beranjak pergi. (Ini mbok uangnya. Enak mbok megononya. Tempenya sudah dingin tapi masih enak. Saya duluan ya mbok). "Hehe... Nek Ra enak seng gawe udu nyong berarti. Sinau seng temen...!!! Usah pacaran...!!!", Nasehat Mbok Sumi setengah teriak dibumbui tawa. (Hehe... Kalau gak enak berarti yang buat bukan saya. Belajar yang rajin...!!! Gak usah pacaran...!!!). Sebuah pelajaran besar yang mengubah pola pikirku. Dan anehnya pelajaran berharga ini justru kudapatkan dari penjual megono. Yang cuma tamatan SD. Nasehatnya yang ringan tapi mendalam ini selalu terngiang di benakku tatkala aku merasa Tuhan tidak adil padaku dan egoku menyeruak jiwaku. Dalam hati aku berjanji. Akan belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi orang yang berguna bagi agama, Nusa, dan bangsa. Agar negeri ini bersih dari tikus-tikus berjas klimis dan Indonesia ini bisa bahagia. Bagaimana Indonesia akan bahagia bila pemimpinnya tidak bersih. Di negeri ini sangatlah banyak manusia berotak cerdas namun berjiwa kertas. Akupun melanjutkan aktivitasku bersama komunitas literasiku di perpustakaan kota. Bayang tentang angan yang melayang menampang di depan pandang. Merenggut fikiranku yang melesat jauh dari raga ini. Kalau ucapan yang didepan sudah tak lagi bisa dipegang, maka kepada siapa rakyat akan mengadu.

Facebook Comments

Zero Sampah di Madrasah

Berawal dari didapuknya MAN 2 Wonosobo sebagai salah satu sekolah adiwiyata tingkat kabupaten tahun 2018, MAN 2 Wonosobo menjadi lebih aktif dalam kegiatan peduli lingkungan. Berbagai pembiasaan peduli lingkungan dilaksanakan civitas akademika MAN 2 Wonosobo guna mendukung program adiwiyata.

Salah satu program mendukung adiwiyata di MAN 2 Wonosobo adalah meminimalisir sampah di madrasah. Kegiatan tersebut diawali dengan deklarasi Zero Sampah pada Jum’at (21/2). Deklarasi tersebut ditandai dengan penandatanganan komitmen civitas akademika untuk senantiasa peduli terhdap lingkungan dan mengurangi sampah.

Deklarasi Zero Sampah diawali dengan kegiatan sehari tanpa kendaraan bermotor di madrasah. Seluruh civitas akademika MAN 2 Wonosobo berangkat ke madrasah dengan jalan kaki dan beberapa menggunakan sepeda.

Prihantoro Achmad selaku kepala MAN 2 Wonosobo mengharuskan kepada seluruh civitas akademika MAN 2 Wonosobo bersama-sama peduli dan menjaga lingkungan. Penandantanganan deklarasi Zero Sampah diawali oleh Kepala Madrasah dan dilanjutkan guru, karyawan, serta peserta didik MAN 2 Wonosobo.

Kegiatan peduli lingkungan di MAN 2 Wonosobo sudah dilaksanakan dalam banyak hal, diantaranya minimalisir sampah plastik di lingkungan madrasah. Madrasah mewajibkan seluruh civitas akademika membawa piring dan gelas sendiri setiap membeli makanan di kantin madrasah. Hal tersebut menjadikan kantin madrasah bebas dari sampah plastik.

Pemanfaatan barang bekas, hemat listrik dan air juga sudah dilaksanakan di MAN 2 Wonosobo. Sikap sadar akan kebersihan diharapakan dimiliki oleh seluruh civitas akademika MAN 2 Wonosobo. Hal tersebut merupakan harapan dari deklarasi Zero Sampah di madrasah. [AB_Dn 27]

Facebook Comments

Siapkan Mental Hadapi Ujian, MAN 2 Gelar SBT

Pagi ini (15/2) MAN 2 Wonosobo menggelar Spiritual Building Training (SBT). SBT dilaksanakan di Masjid Umar bin Khattab MAN 2 Wonosobo. Agenda tersebut dilaksanakan untuk memberikan pembekalan spiritual bagi peserta didik kelas 12 yang akan menghadapi Ujian Nasional pada Bulan Maret. Diawali dengan berdoa bersama, Adrodin Irawan selaku Wakil Kepala bidang Humas memulai kegiatan SBT. Adrodin Irawan memberikan arahan kepada peserta didik kelas 12 agar senantiasa sadar diri dan jangan terbawa emosi hingga merasa depresi dalam menghadapi Ujian Nasional. Adrodin juga menambahkan agar peserta didik senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dalam menghadapi Ujian Nasional.

Acara inti SBT dipimpin langsung dari Tim Motivasi Bhumi Phala Temanggung. 5 orang anggota tim memberikan motivasi sesuai dengan bagiannya masing-masing. Berbagai permainan untuk memfokuskan kosentrasi dan Senam otak juga dilakukan oleh tim agar peserta SBT dapat mengikuti dengan fokus. Slamet Purwanto, salah seorang motivator dalam acara tersebut memberikan motivasi penuh agar peserta didik kelas 12 sadar diri dengan kemampuan yang mereka miliki. Slamet juga menambahkan bahwa sebagai siswa MAN 2 Wonosobo yang dulu dinamai dengan MAN Kalibeber harus memiliki semangat dan harus mampu berkarya tidak hanya bagi Wonosobo saja tetapi juga untuk Indonesia.

Acara SBT ditutup dengan renungan oleh Eko yang juga merupakan motivator dari Bhumi Phala. Eko memberikan renungan bahwasanya sebagai seorang siswa harus senantiasa menghormati orang tua dan guru. Seorang siswa tidak dapat meraih apa yang dicita-citakan tanpa jasa dari orang tua dan guru. Banyak peserta didik yang menangis dan tertunduk pada sesi itu.

Dengan acara SBT diharapkan peserta didik kelas 12 menjadi lebih siap dalam menghadapi Ujian Nasional, baik secara fisik maupun spiritual. Di sisi lain diharapkan juga peserta didik kelas 12 menjadi lebih ta’dhim baik dengan orang tua maupun guru. []

Facebook Comments

MAN 2 Wonosobo Dominasi POPDA Kabupaten 2020

Wonosobo – Kontingen Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Wonosobo mendominasi perolehan medali pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kabupaten Wonosobo Tingkat SMA/MA/SMK tahun 2020 yang dilaksanakan 24 Januari – 3 Februari 2020. Hingga hari terakhir perhelatan POPDA, MAN 2 berhasil meraih total 38 medali, dengan rincian 21 medali emas, 12 perak dan 5 perunggu. Kepastian tersebut didapat setelah pada hari terakhir MAN 2 mampu menambah 7 emas yang disumbangkan dari cabang renang putra dan putri.

Dari total 63 atlit yang dikirimkan pada POPDA Kabupaten tahun ini, total ada 13 cabang olahraga yang mampu menyumbang medali. Pencak silat memperoleh 3 emas, 1 perak dan 1 perunggu, atletik 4 emas, 3 perak dan 1 perunggu, sepak bola 1 emas, taekwondo 2 emas, 2 perak dan 2 perunggu, bulu tangkis 1 perak, tenis meja 1 perak, bola voli indor 1 perak, sepak takraw 2 emas, bola voli pasir 1 emas dan 1 perak, karate 1 emas, 2 perak dan 1 perunggu, terakhir renang 7 emas.

Dominasi ini tidak lepas keberadaan Kelas Khusus Olahraga (KKO) di MAN 2 Wonosobo mulai tahun pelajaran 2019/2020. Kelas ini menjadi kelas yang menyumbang atlit terbanyak pada gelaran POPDA tahun ini. Karena dari 28 siswa di kelas KKO, semuanya terlibat dalam kontingen POPDA MAN 2 Wonosobo. Selebihnya atlit berasal dari berbagai kelas dan jurusan yang tersebar pada 3 jurusan IPA, IPS dan Agama pada jenjang kelas X serta kelas XI.

Adanya KKO tentunya membuat MAN 2 sangat mendominasi pada sebagian besar cabor yang dipertandingkan. Bahkan ada beberapa cabor yang sangat mendominasi, seperti renang, pencak silat, sepak takraw serta atletik. “Siswa pada kelas KKO punya kelebihan dan pengalaman jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Karena setiap hari pagi dan sore itu mereka selalu latihan, apalagi sering ikut berbagai kejuaraan,” ujar Koordinator Pembina Prestasi MAN 2 Wonosobo Unggul Widya Iswara.

Menurut Unggul hasil POPDA Kabupaten ini menjadi ajang yang berjenjang dan diharapkan semua atlit tidak berpuas diri. “Popda kapupaten ini akan dijadikan sebagai seleksi awal untuk mengikuti Popda karisedenan dan provinsi tahun 2020 mendatang. Para peraih medali emas akan mewakili Kabupaten Wonosobo untuk mengikuti POPDA provinsi, serta khusus pencak silat, taekwondo dan sepak takraw akan lebih dulu seleksi di tingkat eks Karesidenan Kedu,” tandasnya. (tr-22)

Facebook Comments

Jelang POPDA, MAN 2 Wonosobo Gelar Mujahadah

Wonosobo – Banyak cara yang dilakukan sekolah atau madrasah dalam menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kabupaten Wonosobo tahun 2020 tanggal 27 Januari – 4 Februari 2020, salah satunya menggelar do’a bersama atau mujahadah. Seperti halnya MAN 2 Wonosobo Senin (20/1/20) siang, pihaknya menggelar mujahadah yang diselenggarakan di masjid Umar bin Khottob MAN 2 Wonosobo pukul 13.00 WIB.

Wonosobo – Banyak cara yang dilakukan sekolah atau madrasah dalam menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kabupaten Wonosobo tahun 2020 tanggal 27 Januari – 4 Februari 2020, salah satunya menggelar do’a bersama atau mujahadah. Seperti halnya MAN 2 Wonosobo Senin (20/1/20) siang, pihaknya menggelar mujahadah yang diselenggarakan di masjid Umar bin Khottob MAN 2 Wonosobo pukul 13.00 WIB.

Mujahadah kali ini dihadiri oleh 63 atlit POPDA MAN 2 Wonosobo, para pelatih, official, guru hingga kepala Madrasah. Kegiatan ini sebagai upaya batin yang tidak bisa dipisahkan dari upaya lahir agar hajat besar POPDA Kabupaten Wonosobo tahun 2020 nantinya akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Kepala MAN 2 Wonosobo Prihantoro Achmad, dalam memberikan pembekalan sebelum kegiatan menyampaikan pentingnya mujahadah ini. Menurutnya selain usaha lahiriyah, perlu juga usaha batiniyah. “Selain latihan keras dan menjaga fisik agar tetap fit perlu juga bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, karena Allah lah yang maha berkehendak,” ujarnya.

Dalam pembekalanya, Prihantoro juga menargetkan hasil terbaik pada POPDA Kabupaten tahun 2020 ini. “Dengan usaha lahir dan batin yang maksimal semoga MAN 2 Wonosobo mampu mendapatkan hasil maksimal, semoga hasilnya lebih baik dari POPDA tahun lalu,” ucapnya.

Senada, Ketua Bidang Pembina Prestasi siswa MAN 2 Wonosobo Unggul Widya Iswara pada kesempatan lain berharap tahun ini memperoleh peningkatan dari segi hasil. Menurunya dari tahun lalu hanya memperoleh 11 emas tahun ini mampu lebih baik lagi. Dia juga berharap dari total 63 atlit Kontingen POPDA MAN 2 Wonosobo tahun ini mampu mengerahkan semua kemampuanya untuk hasil terbaik.

Unggul juga mengapresiasi kegiatan Mujahadah ini. Menurutnya kedekatan kepada Allah juga mampu menambah kepercayan diri atlit dan salah satu usaha batin. “Dengan perantara mujahadah kali ini semoga mampu menumbuhkan kemantapan dan kepercayaan diri atlit, Aamiin,” harapnya.

Kegiatan ini berlangsung hikmat, seluruh peserta mengikuti prosesi mujahadah dengan sungguh-sungguh. Di pimpin Adrodin Irawan, seluruh peserta bersama-sama berdzikir dan membaca kalam Illahi dengan khusyu’ dan ikhlas. Kurang lebih selama 1 jam kegiatan ini berlangsung hingga berakhir pukul 14.00 WIB. []

Facebook Comments