Garung – Dewan Ambalan MA Negeri Kalibeber mengadakan kegiatan tahunan Tegak Karya Manunggal (TKM). TKM kali ini diselenggarakan di desa Sendang Sari Garung, tanggal 25-28 Maret 2016. TKM diikuti oleh kelas X MA Negeri Kalibeber yang berjumlah lebih dari 400 siswa.

Salah satu agenda TKM adalah Api Unggun. Upacara Api Unggun berlangsung di Lapangan Sendang Sari Garung, pada tanggal 26 Maret 2016 malam pukul 20:30. Dalam kegiatan Api Unggun tersebut memakai lebih 100 buah lampion sebagai penerang bagi penyala Api Dasa Dharma. Lampion tersebuat terbuat dari paralon yang diisi semen dan diselimuti kertas berlambang tunas kelapa.

Dalam kesempatan tersebut, Pembina Kak Drs. Eko Sardu Harsono, berpesan agar para peserta TKM dapat menjaga diri dan menaati peraturan yang telah dibuat, serta menjaga nama baik Madrasah. Prosesi upacara berjalan dengan khikmad. Hanya saja pada saat prosesi penyalaan api unggun sempat ada gangguan obor yang sempat padam, namun tidak mengganggu kekhikmadan upacara.

Setelah kegiatan Api Unggun, dilanjutkan dengan Pagelaran Wayang Kulit. Kegiatan ini digelar dalam rangka melestarikan budaya bangsa yang mulai dilupakan oleh generasi muda sekaligus untuk mengapresiasi Wayang Kulit yang secara resmi telah diakui dunia, tutur Bapak Subandi S.Pd.. Pagelaran Wayang Kulit dimulai pukul 21:45 dengan dalang Ki Subandi, S.Pd. Kesehariannya mengampu pelajaran Basa Jawa dan Seni.

 Pagelaran Wayang Kulit kali ini dengan lakon Karmapala yang berkisah tentang bencana yang diterima anak akibat dari tidak mematuhi nasihat orang tua.

Tokoh dalam lakon ini adalah Subali, Sugriwa, Anjani, Gutarma, Windardi, Mahesa Sura, dan Lembu Sura. Amanat dari lakon ini adalah agar anak senantiasa menuruti segala nasihat yang baik dan senantiasa berbakti pada orang tua, cetus Ki Subandi, S.Pd setelah pagelaran.

Pagelaran Wayang ini berlangsung meriah dan disaksikan oleh peserta TKM dan warga sekitar. Menurut Husnul Hotimah, Pagelaran Wayang Kulit cukup menghibur, apalagi itu merupakan kebudayaan Indonesia yang jarang ditemukan disekitar kita. Walau bahasanya sulit untuk dimengerti,namun cukup menghibur. Setelah pukul 23:00,pagelaran hanya disaksikan oleh warga sekitar karena para peserta TKM diharuskan kembali ke semang masing-masing. Kegiatan tersebut berakhir pada 01:00 Minggu dini hari.

(Nadzir, Irma H dan Nurul Azizah)

Facebook Comments
Kategori:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *